Thursday, July 5, 2012

BUKAN untuk PACARAN

Pagi ini indah, cerah, bertemu dengan ayat peringatan yang bagus untuk di-muhasabahkan :
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah : 208-209)
Ya, sebagai muslim yang beriman, kita terutama saya, harus menyelami islam hingga dalam dan benar. Jangan sampai kita hanya taklit buta mengikuti segala hal tanpa mengetahui kebenarannya, apalagi berhubungan dengan ibadah. Islam itu indah dan mudah, jadi tidak usah dipersulit dengan hal2 yang sebenarnya sudah dijelaskan hukumnya.

eeh.. tak lama saya melihat quote ini di retweet oleh salah seorang teman saya :
"Bertemulah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi." - Ali bin Abi Thalib

Thursday, June 28, 2012

Kegalauanku. Anybody help me..


Lagi2.. Galau. Dan daripada dipendam sendiri, mending dituliskan, biar plong :D

Jadi begini.. Terkadang saya bingung.. antara saya harus berbagi dengan orang lain, atau –berniat– mencerdaskan orang lain.

Yang pertama, saya selalu berpikiran, dengan berbagi kita akan menjadi lebih “kaya”. Sebagai contoh, ketika saya punya banyak materi kuliah dari dosen untuk ujian, disaat saya malas untuk membagikannya kepada orang lain, pasti saya selalu mensugestikan kepada diri sendiri “jangan pelit, bagikan pada orang lain. Insya Allah nanti kamu dimudahkan, karena telah membantu temanmu. Lagipula kamu kan mendapatkan dari orang lain juga. Insya Allah juga, pahala akan mengalir kok”.

Oke, ini bukan masalah yang besar pada saya, karena dengan berbagi juga saya yakin kemudahan akan kita dapatkan. Dan ini jelas, bahan yang saya miliki, tidak boleh hanya saya yang memiliki, orang lain berhak tau. Ya kan? Okay, case closed.

Nah.. yang kedua ini, yang membuat saya galau. Seperti kalimat awal di awal tulisan, antara harus berbagi dengan orang lain (lagi) atau mencerdaskan orang lain. Berhubung saat menulis ini, saya sedang –istirahat– belajar (baca: belajar SKS) buat UAS besok dengan seorang teman, saya jadi terinspirasi untuk menulis kegalauan saya ini.

Jaaadi.. masalahnya seperti ini.. Saya senang, jika berbagi dengan orang lain, kalau teman saya kesulitan dalam memahami pun saya mencoba menjelaskan sesuai dengan pemahaman yang saya miliki. Mengambil kasus real saja, kebetulan, Alhamdulillah untuk ujian besok, sang dosen telah memberikan kami kisi-kisi ujian, meskipun nantinya close book, tapi lumayan lah ya, punya gambaran soal ujian untuk besok xD otomatis kami harus mencari jawabannya kaan? Sudah terbayang permasalahan saya? K

Saya berusaha semaksimal mungkin mencari jawaban, pusing2, muter2, guling2 (lho?) sebaik mungkin untuk menemukan jawaban yang benar. Bukan hal yang gampang kan? Eh terus teman2 saya yang lain dengan enaknya, nanya “eh jawabannya apa?”. Dongkol tidak? Saya capek2 memikirkan sang jawaban sampai guling2, yang lain dengan enaknya mau nyontek, poin2 jawaban yang telah saya buat. Sudah pasti saya jadi lebih malas memberikan bahan (baca: jawaban) ujian dibandingkan dengan memberikan bahan dari dosen.

Galau itu ketika, muncullah pemikiran positif saya yang ‘menghasut’, “kasih aja, lagian kan kamu ngasih poinnya aja, belum tentu pas UAS yang essay itu, mereka bisa menjawab dengan sama persis seperti kamu.. siapa tau dapet bonus pahala dan kemudahan saat mengisi jawaban”. tapi di sisi lain, saya berpikir juga “aku pengen mereka mencari jawaban sendiri biar paham, gak cuma sekedar nyontek tapi tetep gak ngerti sama sekali”.

Lalu tindakan apa yang harus saya lakukan demi kebaikan bersama? Agar saya tidak merasa dirugikan, teman2 yang minta jawaban pun juga menjadi cerdas dan tidak dongkol pada saya karena saya tidak memberikan jawaban? Gimme some suggestions.. T___T

*NB: honestly, saya tidak terlalu peduli ketika orang lain (misalnya) menganggap saya pelit karena tidak memberikan jawaban, saya pun sebenarnya merasa tidak enak. Tapi menurut saya ini hanya salahsatu aktivitas ‘kecil’ yang sebenarnya orang lain dapat menilai saya dari sisi lainnya, untuk masalah pelit saja, saya tidak pelit dalam segala hal kan, hanya untuk hal2 tertentu saja. ;)

Wednesday, June 27, 2012

Criing.. Jadilah penulis!


“Jangan berkutat di teori, praktek langsung dengan menulis setiap hari jika kamu ingin mimpi menjadi penulis terwujud!” –Asma Nadia–

Salah satu status FB dari mbak Asma Nadia yang bikin saya tersentak sesaat. Menyadari kondisi kebingungan saya, yang mulai teratasi dengan quote tersebut. Tepat sekali hari ini, “kegalauan” untuk menulis, menjalar hingga sekujur tubuh sampai saya memasang sebuah status di dua social media yang saya miliki dan menuliskan “Pengen nulis tapi gak ada cukup ide untuk memulainya T__T”. Iyaaa.. saya ingin sekali menulis non fiksi –apa lagi fiksi- setelah akhir pekan lalu ikut seminar dan workshop menulis. Teori sudah dapat, sampai judul pun sudah dapat dua, tapi.. mengeluarkannya itu yang bingung. Bingung? Sepertinya sesuai dengan kata mbak Asma, “Jangan berkutat di teori, praktek langsung dengan menulis setiap hari”. Karena dapat teori, menulis yang benar, kesempurnaan pun mulai menuntut diriku. Jadi teringat quote dari bunda Helvy Tiana Rosa juga saat Seminar, “Menulis bagi seorang penulis itu lebih sulit dari pada seorang yang bukan penulis”, kenapa? Karena seorang penulis itu memiliki teori-teori dalam menulis, sehingga ketika ia salah, ia mengetahuinya dan secara tidak langsung tertuntut untuk sesuai dengan teori yang ada. Nah saya, belum jadi penulis terkenal –aamiin- saja, sudah pusing duluan. ~.~
           

Friday, May 25, 2012

#MyQuote

Dalam banyak hal, kesempatan itu tidak datang dua kali. Satu sekon saja anda salah mengambil keputusan, maka bersiaplah untuk berpikir lebih ekstra, mencari alternatif.

Jadilah pribadi yang sabar, sigap, bijak, tegas, tegar, dan kreatif! 

-NMA-

Semakin stabil untuk labil.


Judul yang aneh ya?!
Nampaknya hanya saya dan Allah yang tau secara mendalam tentang makna pada judul tersebut. Saat ini pun saya masih dengan jelas merasakan "the power of the phrase" but i don't know if the working memory doesn't let the short term memories are consolidate to be long term memory(1). Further, maybe in the future i won't feel  "the power of the phrase" again.

Haha. Actually, makna dari "semakin stabil untuk labil" ialah.. saya merasa diri saya telah kembali. Kembali menjadi diri saya yang seperti dulu, dengan ghiroh yang kuat, namun tentunya menjadi pribadi denga ketangguhan berbeda, InsyaAllah.

Friday, May 18, 2012

Mau manfaat atau mudharat?

Hari ini, saya mendapatkan sebuah hikmah. Simpel, namun sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya, mari kita lirik QS. Al Baqarah: 216
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Sunday, May 6, 2012

KUAAATT ^o^9

Terkadang, amanah langsung muncul begitu saja, silih berganti, bahkan tak jarang berbondong-bondong.
Datang, menghampiri, mencari bahu yang bisa di tumpuki..

Membopong amanah ini, rasanya.. Semakin lama semakin banyak dan semakin banyak semakin berat.
Mereka yang mendatangiku, ataukah aku yang mendatangi mereka?
Itu tidaklah penting, hanya saja, kuatkah tubuh ini menopang segalanya?
Bisa kah istiqomah ini terus terselip di dalam setiap langkahku?


KUAAATT!!
Allah memberikan masalah kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya. Dan kemampuan seseorang dapat dilihat melalui masalah yang mengikutinya.
Masih ragu? Ada surah Al Baqarah ayat 286 yang akan meyakinkan mu.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Lalu, mengapa engkau merasa lemah, wahai diri? Allah sedang menjadikan dirimu sebagai hamba Nya yang kuat. Kuat ketika dihantam badai, kuat ketika tak ada lagi satupun orang yang bisa bertahan, kuat ketika setiap masalah menjatuhkanmu.

Bangun. BANGKITLAH!!
Allah tak akan suka dengan lemah mu. Tak ada yang suka dengan kemalasan dan leha-leha mu, wahai diri!
berSEMANGATlah, ISTIQOMAHlah. Karena.. Allah akan selalu menolongmu!

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."  (QS. Muhammad : 7)




日本に行きましょう! [Let's go to Japan!] ^^