Saturday, July 21, 2012

Diary #haLO H-1


Taraa! haLO IMSS! Well, hari pertama kami, saya khususnya, bekerja totalitas sebagai LO atau Liaison Officer. Semenjak di pagi hari saya sudah berkumpul di Masjid Salman ITB, mulai dari yang masih sepi, hingga ramaaaaii sekali. Agenda di H-1 adalah registrasi ulang peserta. Hari ini kami setia menunggu peserta yang belum datang dari pagi, hingga larut malam.

Singkat cerita.. *karena saya sudah agak lupa dengan kejadian di pagi hari ini* yang saya kerjakan hanya bulak-balik dari Salman ke Taman Ganesha, sudah kayak setrikaan deh pokoknya. Walaupun hari sebelumnya saya sudah mendata peserta kelompok yang saya pegang, dan ternyata yang fix datang hanya 2 dari 5 LDK, dengan jumlah peserta 17 dari 27, saya bersyukur karena sepertinya dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan amanah ini. Eeeh.. malamnya, mendadak saya disuruh memegang 5 orang dari LDK yang berbeda, dan 5 orang peserta "spesial" yaitu nominator IYIL (Indonesian Young Islamic Leader), salah satu acara yang diadakan dalam rangkaian acara IMSS 2012 ini. Yap, saya terima saja, karena saya rasa ini tidak akan susah.

#haLO IMSS ^^

Acara FSLDKN XVI - IMSS 2012, 3 hari telah berlalu. Dan sampai sekarang masih meninggalkan "bekas" kenangan dan pengalaman yang tak akan terlupa sepanjang masa.
Haaa.. saya galau jadinya, mengingat-ingat riweuhnya IMSS dari H-1 sampai hari ke 4, ituuu... Subhanallah, super sekali.
Amanah yang saya pegang saat itu adalah LO, kepanjangannya Liaison Officer, kurang mengerti secara detail artinya, tapi yaa seperti itulah kerjanya. Menjadi "tour guide" bagi para peserta. Sampai-sampai, tugas LO itu sepertinya tidak hanya satu, merangkap mulai dari divisi konsumsi, transportasi, bahkan sampai acara. Haha kenapa? Soalnya setiap peserta menanyakan semua hal kepada para LO, dan yang kocaknya, kami para LO itu sebenarnya kan harusnya hanya sebagai perantara, ketika ada peserta yang menanyakan permasalahan divisi lain kepada LO, kami menyuruh mereka menanyakan pada divisi yang bersangkutan, lha tapi si anggota divisi malah bilang, "hmm coba tanyakan LO nya aja". Lho? :))
Makanya kami sebagai LO saat itu merasa stress juga menangani mereka, tapi di sisi lain kami sangat bangga dan lucu dengan tugas2 kami, karena merangkap tersebut, rasanya seperti divisi yang serba tau. Super LO ^^

Huaa, dan sampai saat ini, saya masih merindukan suasana itu semua, walaupun sampai suara saya serak-serak-basah *wkwk* dan tubuh melemah hingga mau pingsan mungkin, tapi saya jalani dengan sungguh sangat amat bahagia sekali. Benar2 pengalaman yang tak akan pernah saya sesali, tak akan pernah saya lupakan. It's one of my best experience :')
Tapi.. dari H-1 saya belum sempat menulis diary nya nih, jadi... insyaAllah akan saya tulis dan posting setelah tulisan ini, walau lebih ringkas, semoga pengalaman intinya masih tetap tergambar jelas ^^


Jakarta, 21 Juli 2012
*di tempat 'transit' sebelum pulang ke home sweet home hihi

Karakteristik Sifat Berdasarkan Golongan Darah

Beraneka ragam golongan darah yang di miliki oleh manusia ternyata menimbulkan berbagai macem karakter dan sifat dari manusia itu sendiri.

Ayo coba kita teliti satu - satu yuk!
Apa bener karakter kita sama dengan yang karakter golongan darah kita ?
atau sebaliknya murtad dari golongan darah kita ?
ayo kita cek!

Thursday, July 5, 2012

BUKAN untuk PACARAN

Pagi ini indah, cerah, bertemu dengan ayat peringatan yang bagus untuk di-muhasabahkan :
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah : 208-209)
Ya, sebagai muslim yang beriman, kita terutama saya, harus menyelami islam hingga dalam dan benar. Jangan sampai kita hanya taklit buta mengikuti segala hal tanpa mengetahui kebenarannya, apalagi berhubungan dengan ibadah. Islam itu indah dan mudah, jadi tidak usah dipersulit dengan hal2 yang sebenarnya sudah dijelaskan hukumnya.

eeh.. tak lama saya melihat quote ini di retweet oleh salah seorang teman saya :
"Bertemulah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi." - Ali bin Abi Thalib

Thursday, June 28, 2012

Kegalauanku. Anybody help me..


Lagi2.. Galau. Dan daripada dipendam sendiri, mending dituliskan, biar plong :D

Jadi begini.. Terkadang saya bingung.. antara saya harus berbagi dengan orang lain, atau –berniat– mencerdaskan orang lain.

Yang pertama, saya selalu berpikiran, dengan berbagi kita akan menjadi lebih “kaya”. Sebagai contoh, ketika saya punya banyak materi kuliah dari dosen untuk ujian, disaat saya malas untuk membagikannya kepada orang lain, pasti saya selalu mensugestikan kepada diri sendiri “jangan pelit, bagikan pada orang lain. Insya Allah nanti kamu dimudahkan, karena telah membantu temanmu. Lagipula kamu kan mendapatkan dari orang lain juga. Insya Allah juga, pahala akan mengalir kok”.

Oke, ini bukan masalah yang besar pada saya, karena dengan berbagi juga saya yakin kemudahan akan kita dapatkan. Dan ini jelas, bahan yang saya miliki, tidak boleh hanya saya yang memiliki, orang lain berhak tau. Ya kan? Okay, case closed.

Nah.. yang kedua ini, yang membuat saya galau. Seperti kalimat awal di awal tulisan, antara harus berbagi dengan orang lain (lagi) atau mencerdaskan orang lain. Berhubung saat menulis ini, saya sedang –istirahat– belajar (baca: belajar SKS) buat UAS besok dengan seorang teman, saya jadi terinspirasi untuk menulis kegalauan saya ini.

Jaaadi.. masalahnya seperti ini.. Saya senang, jika berbagi dengan orang lain, kalau teman saya kesulitan dalam memahami pun saya mencoba menjelaskan sesuai dengan pemahaman yang saya miliki. Mengambil kasus real saja, kebetulan, Alhamdulillah untuk ujian besok, sang dosen telah memberikan kami kisi-kisi ujian, meskipun nantinya close book, tapi lumayan lah ya, punya gambaran soal ujian untuk besok xD otomatis kami harus mencari jawabannya kaan? Sudah terbayang permasalahan saya? K

Saya berusaha semaksimal mungkin mencari jawaban, pusing2, muter2, guling2 (lho?) sebaik mungkin untuk menemukan jawaban yang benar. Bukan hal yang gampang kan? Eh terus teman2 saya yang lain dengan enaknya, nanya “eh jawabannya apa?”. Dongkol tidak? Saya capek2 memikirkan sang jawaban sampai guling2, yang lain dengan enaknya mau nyontek, poin2 jawaban yang telah saya buat. Sudah pasti saya jadi lebih malas memberikan bahan (baca: jawaban) ujian dibandingkan dengan memberikan bahan dari dosen.

Galau itu ketika, muncullah pemikiran positif saya yang ‘menghasut’, “kasih aja, lagian kan kamu ngasih poinnya aja, belum tentu pas UAS yang essay itu, mereka bisa menjawab dengan sama persis seperti kamu.. siapa tau dapet bonus pahala dan kemudahan saat mengisi jawaban”. tapi di sisi lain, saya berpikir juga “aku pengen mereka mencari jawaban sendiri biar paham, gak cuma sekedar nyontek tapi tetep gak ngerti sama sekali”.

Lalu tindakan apa yang harus saya lakukan demi kebaikan bersama? Agar saya tidak merasa dirugikan, teman2 yang minta jawaban pun juga menjadi cerdas dan tidak dongkol pada saya karena saya tidak memberikan jawaban? Gimme some suggestions.. T___T

*NB: honestly, saya tidak terlalu peduli ketika orang lain (misalnya) menganggap saya pelit karena tidak memberikan jawaban, saya pun sebenarnya merasa tidak enak. Tapi menurut saya ini hanya salahsatu aktivitas ‘kecil’ yang sebenarnya orang lain dapat menilai saya dari sisi lainnya, untuk masalah pelit saja, saya tidak pelit dalam segala hal kan, hanya untuk hal2 tertentu saja. ;)

Wednesday, June 27, 2012

Criing.. Jadilah penulis!


“Jangan berkutat di teori, praktek langsung dengan menulis setiap hari jika kamu ingin mimpi menjadi penulis terwujud!” –Asma Nadia–

Salah satu status FB dari mbak Asma Nadia yang bikin saya tersentak sesaat. Menyadari kondisi kebingungan saya, yang mulai teratasi dengan quote tersebut. Tepat sekali hari ini, “kegalauan” untuk menulis, menjalar hingga sekujur tubuh sampai saya memasang sebuah status di dua social media yang saya miliki dan menuliskan “Pengen nulis tapi gak ada cukup ide untuk memulainya T__T”. Iyaaa.. saya ingin sekali menulis non fiksi –apa lagi fiksi- setelah akhir pekan lalu ikut seminar dan workshop menulis. Teori sudah dapat, sampai judul pun sudah dapat dua, tapi.. mengeluarkannya itu yang bingung. Bingung? Sepertinya sesuai dengan kata mbak Asma, “Jangan berkutat di teori, praktek langsung dengan menulis setiap hari”. Karena dapat teori, menulis yang benar, kesempurnaan pun mulai menuntut diriku. Jadi teringat quote dari bunda Helvy Tiana Rosa juga saat Seminar, “Menulis bagi seorang penulis itu lebih sulit dari pada seorang yang bukan penulis”, kenapa? Karena seorang penulis itu memiliki teori-teori dalam menulis, sehingga ketika ia salah, ia mengetahuinya dan secara tidak langsung tertuntut untuk sesuai dengan teori yang ada. Nah saya, belum jadi penulis terkenal –aamiin- saja, sudah pusing duluan. ~.~
           

Friday, May 25, 2012

#MyQuote

Dalam banyak hal, kesempatan itu tidak datang dua kali. Satu sekon saja anda salah mengambil keputusan, maka bersiaplah untuk berpikir lebih ekstra, mencari alternatif.

Jadilah pribadi yang sabar, sigap, bijak, tegas, tegar, dan kreatif! 

-NMA-

日本に行きましょう! [Let's go to Japan!] ^^